Jumat, 26 Januari 2018

Desa Kranggan Barat merupakan desa yang teletak di ujung Kecamatan Tanah Merah. Desa ini memiliki nama yang mirip dengan desa di sebelah timurnya, namun tergabung di kecamatan yang berbeda, yakni Kranggan Timur yang merupakan bagian dari kecamatan Galis. Desa yang dikelilingi dengan pepohonan yang rimbun ini memiliki potensi di bidang pertanian. Sehingga tidak heran pula jika mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani.
Banyaknya sawah dan pepohonan yang mendominasi lokasi desa ini, sehingga jarak antara rumah warga tampak berjauhan antara satu dengan yang lain. Hal ini pula yang menjadikan desa ini disebut sebagai Desa Kranggan yang berasal dari jarangnya atau jauhnya jarak antar rumah warga yang dalam bahasa Madura disebut sebagai “Renggheng” atau “Rangrang” (renggang). Kemudian muncullah kata Kranggan yang kemudian disesuaikan dengan letak desa yang berada di barat, maka lengkap menjadi nama desa ini, yakni Kranggan Barat.
Keadaan di Desa Kranggan Barat hingga saat ini juga masih seperti asal mula adanya desa ini, yakni masih terdapat jarak yang cukup jauh antar rumah warga. Namun hal ini tidak menghalangi eratnya silaturrahmi di antara warga desa. Terbukti dengan seringnya ditemui warga yang mandi dan mencuci baju bersama di sungai atau sumber mata air. Di Desa Kranggan Barat memang terdapat sumber mata air yang hingga saat ini dialirkan ke beberapa kolam pemandian. Aliran air ini di tampung di sebuah kolam pemandian yang digunakan untuk mandi dan mencuci baju oleh mayoritas warga. Dari sumber mata air ini terdapat pula cerita yang menyebutkan bahwa terdapat larangan memakan ikan lele yang berasal dari sumber air di desa ini selama tujuh turunan. Kepercayaan tersebut hingga saat ini masih diyakini oleh warga meskipun sudah lebih dari tujuh turunan berlangsung dan alasan secara detailnya pun belum diketahui secara pasti.
Asal Usul Nama Dusun
Dusun Patanak
Pada mulanya ada seorang ulama dari Rembang yang bernama KH Adlan bin Abdul Qomar. Beliau diutus oleh orang tuanya untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Madura. Ketika sahabat Syekh Adlan berkunjung ke rumah beliau, selalu saja saat syekh sedang menanak nasi yang dalam bahasa Madura adalah “Atanak” dan biasa diucapkan oleh warga “Matanak”. Hingga disebutlah dusun tempat Syekh Adlan tinggal menjadi Dusun Matanak.
Namun selain kisah di atas, ada juga kisah lain yang menceritakan asal mula dari penamaan dari Dusun Matanak ini, yakni awalnya dari kata “Fatanah” dengan harapan warga dusun akan menjadi warga yang cerdas. Dengan pelafalan logat madura pun kata Fatanah menjadi “Petanak”. Sehingga beberapa orang juga menyebutkan nama dusun ini menjadi dusun Patanak.
Dusun Musangngar
Kisah dari Dusun Musangngar ini berawal dari adanya seorang Mbah Buyut yang bernama Suro dari Ampel. Beliau memilki dua istri. Mbah Buyut Suro biasanya suka menggoreng jagung dengan pasir atau dalam bahasa madura disebut sangar yang berarti sangrai. Sehingga setelah Mbah Buyut Suro meninggal, dusun ini pun dinamai sebagai Dusun Musangngar yang berasal dari kata sangar (menyangrai jagung).


Dusun Kranggan
Nama Dusun Kranggan diambil dari kata yang sama dari nama desa, yakni Kranggan Barat.

Dusun Klompek
Pada mulanya nama Dusun Klompek ini berasal dari nama seorang mbah buyut yang tinggal di dekat masjid sebelah sungai, yakni Mbah Klompek. Setelah mbah buyut itu meninggal, dusun yang beliau tinggali dinamai dengan nama Dusun Klompek.

Dusun Jeddak
Nama Dusun Jeddak berasal dari Bahasa Madura, yakni kadedek yang berarti mendadak. Kata ini berawal dari adanya seorang yang tidak dikenal oleh warga, tinggal di sekitar sungai. Diduga orang tersebut mati karena kekenyangan dan warga pun menyebutnya kadedek (mendadak) yang akhirnya menjadikan nama dusun tempat orang yang meninggal tadi menjadi Dusun Jeddak.

Dusun Gunung
Penamaan Dusun Gunung, berawal dari sayembara yang diikuti oleh Syekh Adlan bin Abdul Qomar, sayembara tersebut adalah untuk mengadu kekuatan. Syekh Adlan berencana untuk membelah gunung, dengan sebelumnya meminta bantuan kekuatan kepada Allah SWT untuk sayembaranya. Akhirnya dengan izin Allah, Syek Adlan dapat membelah gunung menjadi dua yang kemudian gunung tersebut salah satunya dilempar dan sampai di kecamatan Galis dan satunya dilempar dan sampai di Dusun Gunung. Oleh karena kejadian tersebut, dusun ini dinamai sebagai Dusun Gunung.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blog Archive