Selasa, 30 Januari 2018

Desa Kranggan Barat tak hanya banyak pengrajin kasur. Banyak juga warga yang berprofesi sebagai petani. Ada petani padi, jagung dan juga kacang tanah. Kali ini yang diangkat adalah jagung. Karena biasanya masyarakat desa Kranggan Barat yang mempunyai ladang jagung kurang memanfaatkan hasil panen jagung dengan baik. Hasil panen jagung biasanya sebagian dijual dan sebagian dikonsumsi sendiri. Tapi kebanyakan warga mengkonsumsi sendiri hasil panen jagung. 
Mahasiswa KKN UTM kemudian berinovasi membuat olahan makanan dari jagung bekerja sama dengan ibu-ibu PKK Kranggan Barat. Jagung yang semula hanya diolah sebagai gimbal (gorengan) dalam Bahasa Jawa, kini bisa diolah menjadi olahan makanan yang beragam, seperti donat, brownies, dan cookies. Dengan harapan inovasi dari mahasiswa KKN UTM dapat dilanjutkan oleh warga terutama ibu-ibu PKK sebagai wadah untuk menambah penghasilan. Berikut detail beberapa olahan jagung.
1.        Donat
  • Bahan:
    - Kg tepung cakra
    - ¼ Kg gula
    - ¼ Kg mentega
    - 3 butir kuning telur
    - 1 sendok makan permifan
    - Minyak goreng
    - Toping (sesuai selera)
a.       Butter krim
b.      Misis
c.       Keju
d.      Kacang
e.       Coklat blok
f.        Trimit

  • Cara Membuat:
    -     Campurkan permifan dengan 100 ml air, kemudian diamkan selama kurang lebih 3 menit
    -     Masukkan gula, mentega dan kuning telur, kemudian aduk hingga rata
    -    Tambahkan air dan campuran permifan yang sudah di diamkan, kemudian aduk adonan hingga tercampur rata hingga gula larut sempurna
    -   Masukan tepung cakra dan jagung rebus yang telah dihaluskan tadi, kemudian aduk hingga adonan tak menempel ditangan (kalis)
    -        Diamkan adonan hingga mengembang
    -       Bentuk adonan sesuai dengan selera
    -     Diamkan adonan yang telah dibentuk kurang lebih 15 menit hingga adonan mengembang
    -    Panaskan minyak goreng kemudian goreng adonan donat hingga matang dan berwarna kuning keemasan
    -      Angkat dan tiriskan donat yang sudah matang
    -      Berikan toping sesuai dengan selera
2.        Brownies
  • Bahan:
    -          25 gr tepung terigu (segitiga biru)
    -          1 ons minyak goreng
    -          ¼ kg gula
    -          6 butir telur
    -          1 ons coklat bubuk brownis
    -          1 ons coklat batang (lelehkan)
    -          25 gr butter
    -          2 saset susu coklat (frisen flag)
    -          1 sendok makan SP/ Pengembang roti
    -          100 gr jagung rebus yang telah di haluskan
  • Cara Membuat:
    -          Kocok gula dan telur, kemudian tambahkan SP/ Pengembang roti hingga kaku. Kemudian matikan mixer
    -          Masukkan tepung trigu, coklat bubuk, jagung
    -          Masukkan coklat batang yang sudah dilelehkan dengan butter kemudian masukkan susu coklat cair (frisen flag)
    -          Tambahkan minyak goreng kedalam adonan hingga tercampur rata
    -          Tuangkan adonan kedalam loyang yang telah di olesi dengan minyak goreng
    -          Kukus selama kurang lebih 1 jam setengah hingga matang kemudian angkat dan keluarkan adonan dari cetakan
3.        Cookies
  • Bahan:
    -          300 gr tepung jagung
    -          300 gr tepung terigu (segitiga biru)
    -          4 butir kuning telur
    -          400 gr gula halus
    -          300 gr mentega (mother choice)
    -          Toping (keju, chocochip)
    -          1 butir telur utuk olesan
  • Cara membuat:
    -   Campurkan gula, mentega dan kuning telur pada wadah dan mixer hingga mengembang (memutih)
    -    Setelah adonan memutih kemudian matikan mixer dan mencampurkan tepung jagung dan tepung terigu hingga merata menggunakan pengaduk
    -       Bentuk adonan sesuai selera pada loyang
    -       Panaskan oven kemudian masukkan adonan yang telah dibentuk
    -   Tunggu 15 menit (setengah matang) dan olesi dengan telur (ulangi sebanyak 2x dan memberikan toping)
    -      Panggang kembali hingga matang (kurang lebih 15 menit/ matang)





Desa Kranggan Barat merupakan desa sentra kasur kapuk tradisional yang sudah banyak dikenal masyarakat luas. Namun seiring perkembangan zaman, persaingan semakin ketat. Karena produk-produk kasur modern lebih diminati oleh masyarakat. Walaupun begitu pengrajin kasur kapuk Kranggan Barat masih bertahan hingga kini. Dengan produksi yang masih berjalan tentu banyak sekali limbah yang dihasilkan, terutama kulit randu yang biasanya dibuang atau sekedar dibakar begitu saja. Perlu adanya gebrakan baru agar kulit kapuk dapat dimanfaatkan oleh warga terutama pengrajin kasur. Hingga munculah ide dari mahasiswa KKN UTM untuk memanfaatkan kulit randu sebagai energi alternatif dalam bentuk briket. Tidak sulit untuk mengubah kulit randu menjadi briket. Bahan-bahan pembuatan briket kulit randu mudah didapat. Proses pembuatannya sangat sederhana, hanya untuk proses pengeringan yang membutuhkan waktu cukup lama.
Alat dan bahan:
1.        Kulit randu
2.        Serbuk kayu
3.        Tepung kanji
4.        Air
5.        Kaleng atau drum solar atau sejenisnya
6.        Wadah untuk mengaduk adonan.
7.        Cetakan (bisa menggunakan apa saja sesuai selera maupun ukuran)
 Proses pembuatan:
1.        Potong kecil-kecil kulit randu jika memakai wadah pembakaran kecil.
2.        Kemudian bakar kulit randu hingga menjadi arang (jangan sampai menjad abu).
3.        Kemudian haluskan menggunakan lesung atau sejenisnya.
4.        Setelah dihaluskan, kemudian diayak.
5.        Kemudian campur dengan serbuk kayu dengan perbandingan 1:1 ke dalam wadah.
6.   Rebus tepung kanji dengan air secukupnya hingga mendidih (sebagai perekat), kemudian dinginkan.
7.       Campur tepung kanji yang sudah direbus ke dalam wadah yang berisi campuran kulit randu halus dan serbuk kayu.
8.        Kemudian aduk hingga tercampur rata.
9.        Setelah itu, cetak ke dalam cetak sesuai selera.
10.    Kemudian jemur hingga benar-benar kering (2-3 hari).

Jumat, 26 Januari 2018

           Desa Kranggan Barat merupakan bagian dari deretan desa di kecamatan Tanah Merah. Dengan jumlah penduduk + 2972 jiwa yang tersebar ke 6 dusun. Masyarakat setempat memiliki mata pencaharian yang beragam. Ada yang menjadi petani padi, jagung, dan kacang, ada juga yang berprofesi menjadi pengerajin kasur tradisional.
Kerajinan kasur Kranggan Barat sudah turun temurun sejak dulu dan sudah dikenal sebagai desa pengerajin kasur tradisional dan pemasarannya sampai ke luar kabupaten seperti Pamekasan dan Sumenep. Namun seiring perkembangan zaman yang semakin modern, kasur kapuk tradisional mulai banyak ditinggalkan oleh konsumen karena persaingan yang ketat dari kasur-kasur modern seperti kasur spons, springbed, dan lain-lain.
            Walaupun kasur kapuk tradisional sudah banyak ditinggalkan, tapi pengerajin kasur kapuk masih bertahan sampai sekarang karena sudah menjadi profesi turun temurun dari kakek buyut. Kualitas kasur kapuk Kranggan Barat cukup baik karena dikerjakan manual menggunakan tangan yang dikerjakan dengan teliti dan hati-hati. Bukan hanya kasur kapuk yang dihasilkan, tetapi juga ada bantal dan guling kapuk. Karena kurang nyaman kalau tidur tidak menggunakan bantal dan guling.
Saat kita memasuki Kranggan Barat, kita akan sering melihat rumah-rumah yang menjadi produsen kasur, terutama di Dusun Musanggar. Walaupun banyak pengerajin kasur, namun pengerajin kasur kapuk Kranggan Barat memproduksi hanya saat ada pesanan saja. Karena peminat kasur kapuk semakin berkurang. Sangat disayangkan juga para pengerajin belum mampu menghasilkan bahan baku sendiri. Biasanya mereka memasok kapuk dari Kecamatan Galis dan bahkan sampai ke Kabupaten Pasuruan.

            Upaya untuk membangkitkan lagi kejayaan kasur kapuk tradisional Kranggan Barat dilakukan oleh mahasiswa KKN UTM yang melaksanakan KKN di Kranggan Barat. Upaya tersebut dilakukan dengan kerjasama antara mahasiswa KKN UTM dengan para pengerajin kasur kapuk Kranggan Barat. Yaitu dengan pembuatan brand (merek) yang selama ini belum ada. Pengerajin kasur kapuk setuju dengan pemberian merek dagang “Telloka” yang merupakan terjemahan dari Bahasa madura yang berarti 3 K (Kampung Kasur Kapuk). Pemberian merek dagang tersebut bertujuan bahwa kasur merek “Telloka” adalah kasur asli Kranggan Barat dengan kualitas original Desa Kranggan Barat.






Hidup bersih dan sehat adalah suatu kewajiban bagi setiap orang. Namun masih ada saja yang belum membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama masyarakat pedesaan. Sering kita lihat perilaku membuang sampah sembarangan, mencuci tangan dengan tidak bersih atau sama sekali tidak mencuci tangan, termasuk juga kebiasaan menggosok gigi dengan baik dan benar. Sudah seharusnya perilaku hidup bersih dan sehat diajarkan sejak dini. Karena seorang anak pasti meniru perlaku orang tuanya atau orang lain yang lebih tua. Pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat selayaknya sudah diajarkan sejak anak masuk TK/PAUD.
Desa Kranggan Barat memiliki 3 sekolah tingkat TK/PAUD. Pada periode KKN tahun ini kelompok KKN 27 UTM mengagendakan penyuluhan perilaku hidup sehat bekerja sama dengan TK Miftahul Ulum Kranggan Barat, RA Metanak Kranggan Barat, dan TK Nurus Shofa Kranggan Barat. Dalam agenda tersebut, tim penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) KKN 27 UTM berbagi ilmu dengan siswa TK/PAUD di Kranggan Barat mengenai pembiasaan mencuci tangan dengan baik dan benar, pembiasaan menggosok gigi 3 kali sehari dengan cara yang benar, serta membiasakan anak-anak untuk membuang sampah pada tempatnya.
Pelaksanaan PHBS pertama diselenggarakan di TK Miftahul Ulum Kranggan Barat (19/1). Siswa cukup antusias dengan materi yang disampaikan oleh tim PHBS KKN 27 UTM di dalam kelas. Pemutaran beberapa video tentang cara menggosok gigi dan mencuci tangan dengan video animasi yan disukai anak-anak. Setelah pemyampaian materi dan pemutaran video di dalam kelas, tim PHBS KKN 27 UTM mengajak anak-anak untuk praktek mencuci tangan yang benar. Setelah semua siswa selesai praktek mencuci tangan, selanjutnya mereka praktek bagaimana cara menggosok gigi yang benar.
Pelaksanaan PHBS yang kedua diselenggarakan di RA Metanak Kranggan Barat (22/1). Konsep penyuluhan PHBS di RA Metanak Kranggan Barat sama persis dengan PHBS di TK Miftahul Ulum. Siswa cukup antusias dan merasa sangat senang dengan adanya penyuluhan PHBS.
Pelaksanaan PHBS ketiga diselenggarakan di TK Nurus Shofa Kranggan barat (25/1). Konsepnya sama dengan pelaksanaan PHBS sebelumnya. Dengan adanya pelaksanaan penyuluhan PHBS ini sudah seharusnya perilaku hidup bersih dan sehat ditanamkan sejak anak usia dini. Karena pembiasaan dari usia dini akan tertanam dan dibawa sampai anak beranjak dewasa.










Desa Kranggan Barat merupakan desa yang teletak di ujung Kecamatan Tanah Merah. Desa ini memiliki nama yang mirip dengan desa di sebelah timurnya, namun tergabung di kecamatan yang berbeda, yakni Kranggan Timur yang merupakan bagian dari kecamatan Galis. Desa yang dikelilingi dengan pepohonan yang rimbun ini memiliki potensi di bidang pertanian. Sehingga tidak heran pula jika mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani.
Banyaknya sawah dan pepohonan yang mendominasi lokasi desa ini, sehingga jarak antara rumah warga tampak berjauhan antara satu dengan yang lain. Hal ini pula yang menjadikan desa ini disebut sebagai Desa Kranggan yang berasal dari jarangnya atau jauhnya jarak antar rumah warga yang dalam bahasa Madura disebut sebagai “Renggheng” atau “Rangrang” (renggang). Kemudian muncullah kata Kranggan yang kemudian disesuaikan dengan letak desa yang berada di barat, maka lengkap menjadi nama desa ini, yakni Kranggan Barat.
Keadaan di Desa Kranggan Barat hingga saat ini juga masih seperti asal mula adanya desa ini, yakni masih terdapat jarak yang cukup jauh antar rumah warga. Namun hal ini tidak menghalangi eratnya silaturrahmi di antara warga desa. Terbukti dengan seringnya ditemui warga yang mandi dan mencuci baju bersama di sungai atau sumber mata air. Di Desa Kranggan Barat memang terdapat sumber mata air yang hingga saat ini dialirkan ke beberapa kolam pemandian. Aliran air ini di tampung di sebuah kolam pemandian yang digunakan untuk mandi dan mencuci baju oleh mayoritas warga. Dari sumber mata air ini terdapat pula cerita yang menyebutkan bahwa terdapat larangan memakan ikan lele yang berasal dari sumber air di desa ini selama tujuh turunan. Kepercayaan tersebut hingga saat ini masih diyakini oleh warga meskipun sudah lebih dari tujuh turunan berlangsung dan alasan secara detailnya pun belum diketahui secara pasti.
Asal Usul Nama Dusun
Dusun Patanak
Pada mulanya ada seorang ulama dari Rembang yang bernama KH Adlan bin Abdul Qomar. Beliau diutus oleh orang tuanya untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Madura. Ketika sahabat Syekh Adlan berkunjung ke rumah beliau, selalu saja saat syekh sedang menanak nasi yang dalam bahasa Madura adalah “Atanak” dan biasa diucapkan oleh warga “Matanak”. Hingga disebutlah dusun tempat Syekh Adlan tinggal menjadi Dusun Matanak.
Namun selain kisah di atas, ada juga kisah lain yang menceritakan asal mula dari penamaan dari Dusun Matanak ini, yakni awalnya dari kata “Fatanah” dengan harapan warga dusun akan menjadi warga yang cerdas. Dengan pelafalan logat madura pun kata Fatanah menjadi “Petanak”. Sehingga beberapa orang juga menyebutkan nama dusun ini menjadi dusun Patanak.
Dusun Musangngar
Kisah dari Dusun Musangngar ini berawal dari adanya seorang Mbah Buyut yang bernama Suro dari Ampel. Beliau memilki dua istri. Mbah Buyut Suro biasanya suka menggoreng jagung dengan pasir atau dalam bahasa madura disebut sangar yang berarti sangrai. Sehingga setelah Mbah Buyut Suro meninggal, dusun ini pun dinamai sebagai Dusun Musangngar yang berasal dari kata sangar (menyangrai jagung).


Dusun Kranggan
Nama Dusun Kranggan diambil dari kata yang sama dari nama desa, yakni Kranggan Barat.

Dusun Klompek
Pada mulanya nama Dusun Klompek ini berasal dari nama seorang mbah buyut yang tinggal di dekat masjid sebelah sungai, yakni Mbah Klompek. Setelah mbah buyut itu meninggal, dusun yang beliau tinggali dinamai dengan nama Dusun Klompek.

Dusun Jeddak
Nama Dusun Jeddak berasal dari Bahasa Madura, yakni kadedek yang berarti mendadak. Kata ini berawal dari adanya seorang yang tidak dikenal oleh warga, tinggal di sekitar sungai. Diduga orang tersebut mati karena kekenyangan dan warga pun menyebutnya kadedek (mendadak) yang akhirnya menjadikan nama dusun tempat orang yang meninggal tadi menjadi Dusun Jeddak.

Dusun Gunung
Penamaan Dusun Gunung, berawal dari sayembara yang diikuti oleh Syekh Adlan bin Abdul Qomar, sayembara tersebut adalah untuk mengadu kekuatan. Syekh Adlan berencana untuk membelah gunung, dengan sebelumnya meminta bantuan kekuatan kepada Allah SWT untuk sayembaranya. Akhirnya dengan izin Allah, Syek Adlan dapat membelah gunung menjadi dua yang kemudian gunung tersebut salah satunya dilempar dan sampai di kecamatan Galis dan satunya dilempar dan sampai di Dusun Gunung. Oleh karena kejadian tersebut, dusun ini dinamai sebagai Dusun Gunung.

Desa Kranggan Barat merupakan bagian dari deretan desa di kecamatan Tanah Merah yang berbatasan langsung dengan Desa Padurungan dari arah utara, Desa Gunung Sereng kecamatan galis dari arah selatan, dari arah timur berbatasan dengan desa Pangerean di kecamatan Tanah Merah, sedangkan dari arah barat berbatasan dengan Tanah Merah Laok di kecamatan Tanah Merah. Desa ini memiliki jumlah penduduk kurang lebih 2972 warga yang terdiri dari golongan tua, muda, dan anak-anak. Penduduk yang tinggal di sini mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, pengerajin kasur, dan perantaulintas luar kota. Keadaan alam Desa Kranggan Baratsecara geografi terletak di kecamatan Tanah Merah kabupaten Bangkalan. Hasil pertanan utama dari Desa Kranggan Barat adalahpadi, jagung, dan kacang tanah. Desa Kranggan Barat dipimpin oleh Bapak Mislan sebagai Kepala Desa. Desa Kranggan Barat tergolong sebagai desa yang maju dari segi religius dibandingkan dengan desa lain disekitarnya. Hal ini bisa dilihat dari kepercayaan masyarakat yang lebih condong untuk melanjutkan pendidikan agamanya.  
      Pendidikan religi. Desa Kranggan Barat cukup tinggi. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa yayasan dan pondok pesantren yang ada. Desa Kranggan Baratmemiliki beberapa yayasan pendidikan. Salah satunya adalah yayasan Miftakhul Ulum Al-Fauzan di Dusun Klompek yang terdiri dari beberapa satuan pendidikan mulai dari tingkat TK Islam, SD Islam, SMP Islam, dan pendidikan nonformal lainnya seperti Madrasah Diniyah. Kemudian terdapat pula pondok pesantren Nurus Syadzily di Dusun Musangar yang terdapat pula lembaga pendidikan tingkat TK (TK Nurus Shofa). Sekolah tingkat dasar di Kranggan Barat terdapat tiga SD, yakni SDN Kranggan Barat 1 yang terletak di Dusun Petanak, SDN Kranggan Barat 2 di Dusun Musangar, dan SDN Kranggan Barat 3 di dusun Kranggen.

Selasa, 16 Januari 2018

      Desa Kranggan Barat adalah bagian kecil dari Kabupaten Bangkalan. Termasuk bagian dari Kecamatan Tanah Merah, lebih tepatnya + 500 Meter sebelah timur pasar Tanah Merah Bangkalan. Desa Kranggan Barat berbatasan langsung dengan dengan Desa Padurungan di sebelah utara, desa Tanah Merah Laok di sebelah barat, dan desa Pengeleyan di sebelah timur.
Jika diilihat dari peta, Desa Kranggan Barat memiliki wilayah yang cukup luas. Terdapat 6 dusun di desa Kranggan Barat, yaitu, Dusun Kranggan, Klompek, Petanak, Musanggar, Gunung, dan Jeddak. Dusun Gunung dan Jeddak terletak di atas bukit. Dari atas dusun ini terlihat pemandangan yang indah.
Di Desa Kranggan Barat terdapat 6 TK/PAUD, 3 SD, dan 1 SMP. Walaupun banyak lembaga pendidikan di desa ini, namun kondisi gedung sekolah di desa ini sangat memprihatinkan. Ruang kelas terbatas dan sarana prasarana sekolah minim.   

Popular Posts

Blog Archive